Minggu, 10 Mei 2009
Senin, 04 Mei 2009
New Achiever Again in my Group on April 2009
Tentunya kita punya new achiever lagi di bulan April ini...hehehehe teutepp booo walaupun 'katanya' bulan April 2009 promonya kurang bagus, tapi kita bisa ttp maju!! TERUS SMANGATT YAAA....:)
Ok...jreng jreng jreng....
New Achiever 3%:
1. Rr. Wahyu (3116499)
Rr. Wahyu ini nama ibunya, tapi dijalankan sm anaknya jg, mb Nona...kompak euy..:)
2. Yurri K. (3118737)
Ini downlinenya Yuliani...Top abizz juga..:)
Slamat ya dah 3% nih...Ayo set target buat bulan Mei...Naek ke 6% yaa..PASTI!!!
New Achiever 6%
1. Muryani (3116500)
Mb Mury nih smangat abizz dan mandiri bangett loh..SALUTT deh buat mb Mury...
Bulan dpn 9% ya mb...YES WE CAN!!
2. Julia Marlyn (3115744)
Mb Julia ini senior-ku di kantor, dan smangatnya dlm jalanin Oriflame juga hebattt bangettzz!!
Hampir setiapp hari mem-prospek orang, dan memang mb Julia ini bakat banget untuk bicara sm orang lain, hehehehee...jadi malu...secara ilmu 'bicara'ku belum sehebat mb Julia..but step by step I've to learn from her!
Hari terakhir tupo poin masi di 539 ya mb?? Tapi dibela2in ke kantor Oriflame di hari terakhir untuk tupo dan jadilah beliau ini new achiever 6%! SALUTTT!!:)
Kalo liat smangatnya sih..bukan gak mungkin bulan ini mb Julia bisa lompat langsung ke 12%!! Ya kan mb??:) Pasti bisa deh...YAKIN!!!
Ok deh...segitu aja new achievernya untuk bulan April ini!
Bulan Mei 2009, banyak skali promo2 produk di katalog, promo rekrut, promo BC!!
Ayooo...tinggal kita manfaatkan!!
Next month smua naek panggung lagi yaaa....:) AMINNNNN!!!!
GO DIRECTOR!!!
Jumat, 10 April 2009
My First Beauty Demo at BJ Hypermart, BSD
Make Up Artisnya: Mb Maya...
Just enjoy the pics yaaa :-)
Minggu, 05 April 2009
BOP 5 April 2009 - My Recognition as Manager 12%!! :-)
Rabu, 01 April 2009
New Achiever in my group on March 2009!!! :)
Bahkan downlineku si Joice, bisa mencapai level Manager hanya dalam waktu 2 bulan!! Gila benerrr!! Terbukti kannn bahwa di bisnis Oriflame ini...siapapun bisa berhasil!! Mau cepat ato lambat, itu terserah Anda yang mengaturnya sendiri, karena bisnis ini adalah Bisnis ANDA sendiri dan bukan bisnis upline ato downline ANDA!!
Okay....berikut adalah new recognitions in my group:
3%
Emang TOP BGT smua dah....Herlina K, Muryani, Sumari & Winayanti S. bisa mencapai level 3% dalam waktu sebulan ajah.
Wynny Ind & Yuliani S. juga gak kalah euy...makin gilaaa!! Dalam sebulan bisa langsung ke level 6%!!
And last but not least is my great manager: Joice Washita!!! Hanya perlu waktu 2 bulan bagi ibu satu ini untuk mencapai level 12%!!! GILA BANGETTTT !!! :)
Ok...segitu aja new recognition my group bulan Maret 2009 ini!! Ayooo untuk bulan April 2009 pasang target masing2 yaa, mau naek 1 level ato 2 level?? Itu adalah hak kalian!! Krn SUKSES itu adalah HAK smua orang!! SMANGATTTT!!!
YES YOU CAN!!! ^_^
Real Story: Masih Layakkah Kita Mengeluh???
“Namaku Tek Tan Nio”
artikel & foto: Veronika
”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja.”
Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat.Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun.
Lembaran Kisah Hidupku
Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat -red) di sampingnya.
Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin.
Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku.
Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali.Ket: - Cobaan datang silih berganti dalam kehidupan Tek Tan Nio, namun tidak membuat dia merasa putus asa. Sebaliknya,
dia menjadi semakin bersemangat untuk terus melanjutkan kehidupannya. (kiri)
- Tek Tan Nio tidak ingin dirinya dikasihani. Walaupun kakinya mengalami pengeroposan tulang, namun ia tetap
semangat berjuang untuk bisa membahagiakan Tek Cui Nio (85), mamanya. (kanan)
Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku.
Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank.
Darimana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang.
Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah.
Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu -red) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris.
Ket: - Untuk mengurangi rasa nyeri dilututnya, Tek Tan Nio memberikan perban di lututnya sebelum pergi keluar rumah.
(kiri)
- Setiap bulannya, Tek Tan Nio mendapatkan penghasilan sebesar lebih kurang 500.000 rupiah yang hanya cukup
untuk makan sehari-hari ia dan mamanya. (kanan)
Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan. Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku. Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku.
Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat (kurang lebih
Ket: - Tidak hanya pengeroposan tulang, Tek Tan Nio juga mengalami pembengkakkan jantung yang membuat ia selalu
berkeringat. Dalam satu hari, dia bisa berganti baju hingga
- Betapa besar bakti seorang anak kepada ibunya dapat kita contoh dari sikap Tek Tan Nio yang sangat mencintai
ibunya yang berumur 85 tahun, dan tengah sakit-sakitan. (kanan)
Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari kata cukup.
Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung.
Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan Tzu Chi. Karena ada Tzu Chi yang mendukung, rasanya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
Sabtu, 07 Maret 2009
Minggu, 10 Mei 2009
Senin, 04 Mei 2009
New Achiever Again in my Group on April 2009
Tentunya kita punya new achiever lagi di bulan April ini...hehehehe teutepp booo walaupun 'katanya' bulan April 2009 promonya kurang bagus, tapi kita bisa ttp maju!! TERUS SMANGATT YAAA....:)
Ok...jreng jreng jreng....
New Achiever 3%:
1. Rr. Wahyu (3116499)
Rr. Wahyu ini nama ibunya, tapi dijalankan sm anaknya jg, mb Nona...kompak euy..:)
2. Yurri K. (3118737)
Ini downlinenya Yuliani...Top abizz juga..:)
Slamat ya dah 3% nih...Ayo set target buat bulan Mei...Naek ke 6% yaa..PASTI!!!
New Achiever 6%
1. Muryani (3116500)
Mb Mury nih smangat abizz dan mandiri bangett loh..SALUTT deh buat mb Mury...
Bulan dpn 9% ya mb...YES WE CAN!!
2. Julia Marlyn (3115744)
Mb Julia ini senior-ku di kantor, dan smangatnya dlm jalanin Oriflame juga hebattt bangettzz!!
Hampir setiapp hari mem-prospek orang, dan memang mb Julia ini bakat banget untuk bicara sm orang lain, hehehehee...jadi malu...secara ilmu 'bicara'ku belum sehebat mb Julia..but step by step I've to learn from her!
Hari terakhir tupo poin masi di 539 ya mb?? Tapi dibela2in ke kantor Oriflame di hari terakhir untuk tupo dan jadilah beliau ini new achiever 6%! SALUTTT!!:)
Kalo liat smangatnya sih..bukan gak mungkin bulan ini mb Julia bisa lompat langsung ke 12%!! Ya kan mb??:) Pasti bisa deh...YAKIN!!!
Ok deh...segitu aja new achievernya untuk bulan April ini!
Bulan Mei 2009, banyak skali promo2 produk di katalog, promo rekrut, promo BC!!
Ayooo...tinggal kita manfaatkan!!
Next month smua naek panggung lagi yaaa....:) AMINNNNN!!!!
GO DIRECTOR!!!
Jumat, 10 April 2009
My First Beauty Demo at BJ Hypermart, BSD
Make Up Artisnya: Mb Maya...
Just enjoy the pics yaaa :-)
Minggu, 05 April 2009
BOP 5 April 2009 - My Recognition as Manager 12%!! :-)
Rabu, 01 April 2009
New Achiever in my group on March 2009!!! :)
Bahkan downlineku si Joice, bisa mencapai level Manager hanya dalam waktu 2 bulan!! Gila benerrr!! Terbukti kannn bahwa di bisnis Oriflame ini...siapapun bisa berhasil!! Mau cepat ato lambat, itu terserah Anda yang mengaturnya sendiri, karena bisnis ini adalah Bisnis ANDA sendiri dan bukan bisnis upline ato downline ANDA!!
Okay....berikut adalah new recognitions in my group:
3%
Emang TOP BGT smua dah....Herlina K, Muryani, Sumari & Winayanti S. bisa mencapai level 3% dalam waktu sebulan ajah.
Wynny Ind & Yuliani S. juga gak kalah euy...makin gilaaa!! Dalam sebulan bisa langsung ke level 6%!!
And last but not least is my great manager: Joice Washita!!! Hanya perlu waktu 2 bulan bagi ibu satu ini untuk mencapai level 12%!!! GILA BANGETTTT !!! :)
Ok...segitu aja new recognition my group bulan Maret 2009 ini!! Ayooo untuk bulan April 2009 pasang target masing2 yaa, mau naek 1 level ato 2 level?? Itu adalah hak kalian!! Krn SUKSES itu adalah HAK smua orang!! SMANGATTTT!!!
YES YOU CAN!!! ^_^
Real Story: Masih Layakkah Kita Mengeluh???
“Namaku Tek Tan Nio”
artikel & foto: Veronika
”Tidak banyak yang aku harapkan sekarang, aku hanya ingin melihat mamaku sehat, itu saja.”
Sudah beberapa minggu ini, aku tidak bisa tidur nyenyak. Kepala rasanya sakit sekali seperti ditusuk ribuan jarum tajam yang perlahan menembus kulit. Setiap malam yang kulakukan hanya membolak-balikkan badan, mengganti baju yang basah karena keringat, dan setiap satu jam sekali rutin melongok kondisi mama yang tengah tertidur. Lelah sekali! Jika sudah tidak kuat menahan sakit, aku pun terpaksa minum obat tidur, agar badan ini bisa sedikit beristirahat.Kondisi kaki mama yang terus membengkak telah menyita seluruh pikiranku. Belum lagi kalau sesak napas mama kambuh, rasanya ingin sekali menggantikan penderitaannya. Sudah tidak bisa diungkapkan, betapa aku sangat menyayanginya melebihi apapun.
Lembaran Kisah Hidupku
Namaku Tek Tan Nio, lahir di Bogor, 11 November 1944, dari rahim Tek Cui Nio, seorang ibu yang sangat luar biasa, karena berhasil membesarkan aku dan kelima saudaraku tanpa figur seorang suami (Tan Ceng Yat -red) di sampingnya.
Sejak papa meninggal karena tifus, mama berjualan makanan untuk bisa menghidupi dan membesarkan kami. Pagi-pagi benar beliau sudah memasak. Mulai dari membuat sate manis, sayur asin, hingga ayam goreng. Sedikit pun tidak pernah terdengar oleh kami dia mengeluh.
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, kini kondisi mama tidak lagi sekuat dulu. Sedangkan kami tetap membutuhkan uang untuk biaya sekolah dan hidup. Akhirnya, aku yang terbiasa membantu mama berdagang, memutuskan untuk mencari uang lebih dengan mengajar bahasa Mandarin.
Sudah lama aku mencintai bahasa ini. Bahkan untuk melancarkannya aku sering mengajak ngobrol teman, tetangga, sampai seluruh hewan peliharaanku dengan menggunakan bahasa Mandarin. Semangat tinggi ini tidak sia-sia. Meskipun hanya lulus SMA, sekitar tahun 1950 hingga 1966, aku dipercaya untuk menjadi lao shi (guru) bahasa Mandarin di Zhen Zhong Xue Xio, dan Sekolah Pacung, Mangga Besar. Melalui dua sekolah tersebut, aku mendapatkan banyak teman. Aku yang senang bergaul, juga cepat sekali akrab dengan seluruh murid-muridku.
Karena kedekatan tersebut, salah satu orangtua murid memberikan kepercayaan untuk membantu menjual berlian miliknya. Awalnya aku tidak menyangka akan diberikan kepercayaan sebesar ini, apalagi jumlah berliannya tidaklah kecil, hampir satu toples penuh. Hasil penjualannya juga tidak langsung disetorkan, tapi setiap empat bulan atau enam bulan sekali.Ket: - Cobaan datang silih berganti dalam kehidupan Tek Tan Nio, namun tidak membuat dia merasa putus asa. Sebaliknya,
dia menjadi semakin bersemangat untuk terus melanjutkan kehidupannya. (kiri)
- Tek Tan Nio tidak ingin dirinya dikasihani. Walaupun kakinya mengalami pengeroposan tulang, namun ia tetap
semangat berjuang untuk bisa membahagiakan Tek Cui Nio (85), mamanya. (kanan)
Dua pekerjaan sekaligus aku jalani. Menjadi guru dan penjual berlian, secara otomatis telah mendongkrak kehidupan ekonomi keluargaku. Namun sayang, di balik itu banyak sekali cobaan yang hampir saja membunuh jiwa dan ragaku.
Materi terkadang dapat membuat orang gelap mata. Suatu ketika, saat aku kembali ke rumah sehabis bekerja, tiba-tiba kutemukan mama tengah menangis. Matanya yang teduh itu membengkak, dia terlihat sangat shock dan stres. Ternyata, tanpa sepengetahuan mama, salah satu adikku telah mengadaikan rumah kami ke bank, dan pihak bank datang untuk memberitahukan bahwa jatuh tempo pinjaman tersebut sudah hampir habis. Kalau pinjaman sebesar 85 juta tersebut tidak segera dilunasi, maka rumah ini akan segera disita oleh bank.
Darimana kami bisa mencari uang sebanyak 85 juta dalam waktu singkat? Hal itu langsung berputar di kepalaku. Uang 85 juta itu tidak pantas membuat mama meneteskan air matanya. Uang itu juga tidak boleh merusak hatinya yang lembut. Aku berjanji, demi mama aku akan mempertahankan rumah ini, dan atas nama mama, aku meneguhkan hati untuk berjuang.
Segala upaya aku lakukan. Tidak hanya mengajar, aku juga mulai membuat makanan kecil dan menititpkannya ke kantin sekolah, atau menjualnya sendiri ke rumah-rumah sehabis bekerja. Lelahnya bekerja sejak pukul 5 pagi hingga larut malam, tidak lagi kurasakan. Aku pun tidak pernah lupa bersujud memohon kepada Tuhan, untuk meminta kekuatan agar bisa menjalani semua ini. Akhirnya pinjaman itu berhasil kami lunasi. Rasa syukur itu terasa sangat luar biasa karena wajah mendung mama kini sudah berubah menjadi cerah.
Baru saja kami sedikit bernafas lega, tiba-tiba cobaan kembali datang. Sekitar tahun 94, rumah kami kemalingan, dan A Yi (sebutan untuk kakak dari ibu -red) juga terbunuh dalam kejadian itu. Semua berlian dagangan ludes tercuri, dan yang paling menyakitkan kami harus merelakan A Yi, yang selalu setia membantu. Jujur, betapa rapuhnya aku kala itu. Rasa takut, kecewa, dan putus asa semua bercampur menjadi satu. Melihat mama yang terus menangis kala mengingat A Yi, membuat hati ini semakin teriris.
Ket: - Untuk mengurangi rasa nyeri dilututnya, Tek Tan Nio memberikan perban di lututnya sebelum pergi keluar rumah.
(kiri)
- Setiap bulannya, Tek Tan Nio mendapatkan penghasilan sebesar lebih kurang 500.000 rupiah yang hanya cukup
untuk makan sehari-hari ia dan mamanya. (kanan)
Belum kering air mata ini, tiba-tiba saja adikku Tek Mei Lan divonis menderita ginjal oleh dokter. Dengan sangat terpaksa akhirnya kami pun menjual sisa-sisa barang yang masih berharga, dan menggunakan uang deposito yang selamat dari kemalingan untuk mengobati adik, sampai akhirnya dia dipanggil Yang Maha Kuasa.
Rasanya telah habis daya ini untuk melewati cobaan yang tidak berujung. Sering juga aku ingin mengakhiri hidup, tapi tatapan lembut mama selalu memberi semangat baru untukku. Ujub-ujub doa (doa khusus -red) yang aku panjatkan telah memberikan kekuatan yang tiada terkira, dan membuatku bertahan hingga saat ini.
Di umurku yang memasuki 65 tahun, aku masih terus berjuang. Dengan bantuan tongkat penyangga kaki, setiap tiga kali seminggu aku menjajakan kerupuk, keripik singkong, chesse stick, dan makanan ringan lainnya ke daerah sekitar rumah dan Pasar Bogor. Semua ini kulakukan untuk membiayai hidupku dan mama, karena tidak mungkin aku menyusahkan saudara-saudaraku yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Empat tahun lalu, aku sudah mulai merasakan sakit di kaki sebelah kanan. Namun karena tidak ada biaya aku menyepelekannya, hingga rasa sakit itu semakin hari menjadi semakin parah. Akhirnya dengan bantuan dana dari beberapa murid, aku pun memeriksakan diri. Menurut dokter, aku mengalami pengeroposan tulang, dan jatuh yang pernah kualami telah memperparah kondisi tersebut. Tulangku sudah retak dan rasanya seperti menusuk ke daging kakiku. Oleh sebab itu, hingga kini aku membutuhkan tongkat penyangga untuk berjalan, karena aku sudah tidak kuat lagi berdiri di atas kedua kakiku.
Tidak hanya itu saja, dokter juga menjelaskan bahwa ada pembengkakan di jantungku. Ia menjelaskan hal tersebut adalah alasan mengapa aku sering sekali berkeringat (kurang lebih
Ket: - Tidak hanya pengeroposan tulang, Tek Tan Nio juga mengalami pembengkakkan jantung yang membuat ia selalu
berkeringat. Dalam satu hari, dia bisa berganti baju hingga
- Betapa besar bakti seorang anak kepada ibunya dapat kita contoh dari sikap Tek Tan Nio yang sangat mencintai
ibunya yang berumur 85 tahun, dan tengah sakit-sakitan. (kanan)
Setiap hari, aku dan mama bergantung kepada uang hasil berdagang makanan ringan yang aku dapatkan. Aku akui, kalau hanya untuk makan dan membayar listrik uang tersebut (lebih kurang 500.00 per bulan) cukup, tapi kalau mama atau aku sakit, uang itu jauh dari kata cukup.
Walaupun sering mendapatkan bantuan dari beberapa mantan anak murid, aku tetap tidak ingin terus-menerus menyusahkan mereka. Saat ini yang aku pikirkan hanyalah kesehatan mama, karena menurut dokter mama juga tengah mengalami pembengkakan jantung.
Cobaan yang datang silih berganti tidak hanya membuat aku tangguh, tapi juga semakin menambah rasa cintaku yang besar kepada mama. Mama yang buat aku jadi semangat, kalau tidak ada mama, aku pasti sudah putus asa. Semangat untuk terus berjuang tidak hanya aku dapatkan dari mama, namun juga dari beberapa mantan murid-muridku, teman-teman lama, dan sekarang bertambah dengan hadirnya para relawan Tzu Chi. Karena ada Tzu Chi yang mendukung, rasanya menjadi lebih bersemangat untuk terus berjuang hingga titik darah penghabisan.
.jpg)
.jpg)




